Rabu, 10 Juni 2015

The Last Stand : Dead Zone - Survive ? Really ?

The Last Stand : Dead Zone - Survive ? Really ?

Fanfiction ini diadaptasi dari game online berbasis Webpage. Siapa saja yang menjiplak/copy paste akan dikenakan denda cipokan dengan Yaranaika atau hukuman seberat-beratnya : ciuman dengan Justin Bieber.
Hak cipta dilindungi Con Artist.



Dead Zone - Sector 5
21-04-2122 , 23.58 P.M.
(Rei View)
Police Station -
Tap..tap..tap..
Sepatuku terus berbunyi senada dengan raungan infected ( Zombie ) yang berusaha mengejarku. Aneh rasanya jika orang tampan sepertiku harus dikejar pemangsa lapar. Mungkin mereka ingin memangsa ketampanan wajahku dahulu agar wajah rusak penuh bekas gigitan mereka bisa kembali seperti semula. Atau otakku agar mereka dapat pintar melebihi udin gamboet, kau tau seperti game Pl*an*t Vs Zombcoegs. Dimana para zombie menerobos pekarangan belakang rumahmu dan melecehkan tanaman Sun Flower yang siap kau panen mataharinya." Rei, langkahkan kaki kananmu kedepan dan kaki kirimu juga bergantian " teriak seorang gadis cantik nan manis dari Bat Mobile yang sudah siap menyambutku dan pergi dari tempat terkutuk ini.
" kenapa memangnya ? " balasku berteriak seusai melewati pintu keluar dari tempat itu.
" bisa lari ! Senam yang iya iyalah " teriaknya lagi, ah ternyata dia sedang mendengarkan lagu Senam yang Iya Iyalah dari Samsung Galaxy S6 sambil bermain Get Ric*h dan Clash of Coeg dari Smartphone OPPO nya (iklan ini dibayar).
" Sayang , aku tak punya waktu ! Cepat putar balik mobil kalong itu, agar aku bisa masuk ! " teriakku dengan panik seusai salah satu zombie itu mencolek bokongku.
Langsung saja gadis itu memutar balik Bat Mobile kami dan aku melompat kearah kaca mobil tersebut dengan slow motion agar tambah kece.
"tancap gas !" teriakku seusai duduk dan mengacungkan jari berbentuk metal ( \m/ ).
Langsung saja gadis itu menekan tombol turbo, dan Bat Mobile pun melesat kencang kearah jalan raya dan menjauhi tempat terkutuk itu.
" jadi apa yang kau dapatkan dikantor polisi itu, Rei. " ucap gadis itu seusai mengalahkan lawannya yang berasal dari Thailand di permainan Get R*ich. Gila saja, dia meland mark semua kota yang didapatkannya, aku tertegun ngeri melihat marblenya. Apalagi melihat TH 9 nya di CoC,mengerikan.
" ngg.. Sebuah Desert Eagle, dan beberapa pentungan serta majalah yaoi ini " jawabku sambil mengeluarkan semua isi ranselku, jika kau merasa aneh. Sebenarnya Bat Mobile memiliki autodrift, jadi dia bisa jalan sendiri sesuai lokasi yang ditandai.
" kyann.. Ini majalah satu-satunya didunia, hanya diproduksi 1 dan dijual seharga 80 triliun, tak kusangka aku mendapatkannya.. Terimakasih Rei ! " jeritnya kegirangan dan mencium bibirku.
Ohya, aku lupa memberitaumu. Gadis ini adalah kekasihku, saat Zombie Apocalypse terjadi kami berhasil bertahan bersama. Kami keluar dari sekolah terkutuk itu bersama.
"hiks..hiks.. Jangan dekati aku sensei.. Jangan melakukan itu padaku" tangis itu meledak,saat melihat temannya diperkosa oleh senseinya yang menjadi gila karna ketakutan akan zombie. Sejujurnya, masih teringat kejadian saat itu.
" selanjutnya giliran kau.. Rei " ujar guru gila itu sambil menatapku bernafsu.
Ya, yang menangis ketakutan itu aku,dan teman priaku yang diperkosanya.
Kau pikir aku gila ? Atau kau pikir pencipta ff ini seorang gay atau semacamnya ? Tidak !
Dia normal begitupun aku ! Kami mengerti apa itu ikkeh ikkeh kimochi dan hentai. Jika kau mau tau, Oni ***" dan Ero** serta koutetsu no majjo a***ose juga mantap jika kau pecinta offai.
BTS (back to story).
Guruku memang terkenal sifatnya yang gay, dia selalu menjauhi murid wanita dan selalu mendekati murid pria yang tampan dan imut sepertiku. "singkirkan tanganmu dari priaku, brengsek ! " teriakan kekasihku itu membuat guruku terkejut dan seketika ketakutan. Kekasihku merupakan Atlit pentjak silat terbaik dinegara Indonesia, kini berubah menjadi Dead Zone.
Dengan tendangan kebo gila darinya membuat guruku terpental dan memuntahkan darah.
"Rei, kau tak mengapa ?" tegurnya lembut dan memeluk diriku. Seketika aku menangis, karna ketakutan aku sempat ngompol. Tapi pelukan hangat darinya memberiku rasa aman.
"tunggulah disini, aku akan mengurusnya dahulu" katanya lagi sambil mengecup keningku.
"a-ah.. Asuka, aku hanya bercanda dengan Rei. " kata guruku membela diri dengan wajah pucat.
" diam kau, guru sepertimu sudah dari dulu ingin kuhajar. Kau tau sejak kelas 1 aku memperhatikanmu selalu menggoda Rei, dan selama itu juga aku sudah sangat ingin membunuhmu. Tapi tak kusangka, sekarang tiba saatnya untuk membunuhmu. Dimana hukum sudah tak berlaku, siapa kuat dia yang akan bertahan" ujar gadisku, ya kau sudah dengar namanya kan ? Sebenarnya itu OC ( Original/Own Character ) dari pacar author. Namun tiba-tiba guruku tersenyum dan menyeringai.
"ahaha.. Kau ingin membunuhku Asuka ? Ayo, maju bunuhlah aku" ujarnya dengan mata yang berubah menjadi mangekyou sharingan.
"tch ! 1 + 1 berapa ! RAMADA !" teriak Asuka dan berlari menyerang guruku yang ternyata bernama Ramada ( ingat bukan Madara ).
" tentu saja 2 ! Asuka ! " balas Ramada sambil berlari dan mengeluarkan Chidori dan beradu dengan Kamehameha Dari kekasihku. Namun chidori Ramada kalah dan kamehameha Asuka berhasil membunuhnya.
"jawabannya, 11" Ujar Asuka menutup pertarungan gila itu, sementara itu para zombie berlarian ketakutan menghindari Asuka yang berjalan dengan kecenya sambil menggendongku.
"selamanya kita akan bersama Rei.. Selamanya" katanya lembut. Aku tersenyum dan jatuh tertidur dalam pelukannya.
Critttt...
Bunyi ban Bat Mobile berdecit saat mobil milik batman itu berhenti dan memarkir sendiri disebuah tempat disektor 1 yang merupakan markas kami.
Ya kami para survivor berusaha bertahan dengan membangun markas didaerah yang sedikit netral dan jauh dari para zombie.
" ayo Rei, ketua pasti sudah menunggu.. "
" baik sayang, " jawabku mengikuti Asuka yang sudah turun duluan dan berjalan kemarkas kami.

Dead Zone Sector 1
22-04-2122 , 01.00 A.M
Survivor Camp - Silver Queen Guild

Markas ini merupakan salah satu markas terkuat dari 108 Sektor. Dan markas ini merupakan pusat dari kumpulan para survivor yang tersebar disektor 1. Dan pimpinan dari markas kami adalah Ani Dwijaya,gadis yang sangat lembut namun kuat. Dia berhasil menyatukan survivor dibawah kepemimpinannya dengan sifat lembutnya itu. Sebenarnya dulu dia bersaing dengan Asuka untuk memperebutkan posisi ketua, tapi Asuka tidak tertarik dan memilih untuk mundur. Alasannya simpel tapi masuk akal, ia ingin memberi perhatian penuhnya kepadaku. Karna jika menjadi ketua, pasti harus sibuk mengatur pasokan makanan dan minuman,team yang bertugas dengan bidang masing-masing dan lain-lain.
Sesuai nama markas ini, anggotanya 90% adalah wanita.
"ketua, kami berhasil menjebol kantor polisi sektor 5.Dan Rei berhasil mendapatkan Majalah Yaoi ini ! Majalah pertama dan terakhir yang memuat manga dari berbagai fandom ! " kata Asuka menyampaikan laporannya kepada Ani.
"a-apa ? Majalah seharga 80 triliun itu ? Dengan berat hampir 20kg karna banyaknya kertas yang berisi manga itu ?" jawab Ani terbelalak.
"ya ! Ini majalahnya, tolong disimpan dengan baik" tambah Asuka lagi.
"b-baik Asuka,Rei kau memang hebat, kemari aku ingin menciummu sebagai tanda terimakasihku" kata Ani sembari mengedipkan matanya dan menjilat bibirnya menatapku. Aku bergidik karenanya, gila saja meski aku tampan. Aku ini tipe pria setia.
" jika kau melakukannya pada Rei, aku tak segan membunuhmu " celetuk Asuka tiba-tiba dengan menodongkan Desert Eagle kearah Ani.
" hei jangan lancang kau ! " teriak seorang pengawal setia Ani yang dari tadi berdiri disamping Ani dan balas menodong Asuka.
"hei-hei, jangan terlalu serius dengan Asuka,turunkan senjatamu Ana." tegur Ani pada pengawalnya, kemudian Asuka dan pengawal Ani yang bernama Ana pun menyarungkan Senjatanya kembali.
"nah begitu dong, ohya, Asuka bagaimana tawaranku ? Tentang wakil ketua, kau mau ?" sambung Ani lagi dengan senyuman manisnya.
" aku pernah bilang, serahkan saja jabatan itu pada Ana.Dia kan kembaranmu, aku juga tidak tertarik. Aku lebih suka mengurusi Rei. Ayo Rei, kita istirahat dikamar" Ajak Asuka dan menarik tanganku mengikutinya.
"hmm, benar-benar gadis keras kepala" gumam Ani pada dirinya sendiri.
"kak, kenapa kau begitu ingin dia menjadi wakil ketua ? Padahal ada aku, kakak tidak percaya pada kekuatanku ?" tegur Ana kemudian dengan tatapan sinis.
"tidak, bukan begitu. Gadis itu memiliki jalan pikiran yang sulit ditebak, dan dia akan selalu melindungi sesuatu yang berharga baginya. Makanya aku lebih memilih dia. Aku tidak ingin munafik, jika dia menjadi wakil. Pasti dia akan mampu membuat guild kita menjadi lebih maju dan kuat,karena dia tidak percaya siapapun kecuali instingnya." jawab Ani dengan lembut.
"tapi kak, aku merasa bahwa diriku lebih pantas ketimbang dia. Dia terlalu sombong" kata Ana lagi mempertahankan pendapatnya. gumam Ani pada dirinya sendiri.
"Kau akan mengerti Ana" jawab Ani mengalah kemudian beranjak pergi ditemani Ana. Ia hendak menyimpan majalah tersebut diruangan membaca markas Silver Queen.

Bedroom

Sementara itu, dikamarku dan Asuka. Aku sedang mempreteli M4A1 ku dan membersihkan bagian-bagian senjata tipe menengah itu.
Sedangkan Asuka tengah memasak sarapan subuh untuk kami berdua. Kami hanya berdiam diri dan mengerjakan urusan masing-masing.
"hei Rei, mau mandi bareng?" tegur Asuka seusai makan dan membereskan piring kotor.
"kau sajalah dulu sayang, aku sedang mengisi amunisiku." jawabku pendek dengan tangan yang sibuk menghitung sisa peluru. Jika kau penasaran mengapa kami tidak terlalu kesulitan air ? Itu karena markas kami dekat dengan bendungan milik PLTA yang sudah netral dan diisi oleh mekanik handal serta team khusus. Oleh karena itu kami tidak pernah kekurangan air.
"ngg,yasudah. Kalau mau mandi masuk aja. Kita kan sudah sah hehe." jawabnya lagi dengan menjulurkan lidahnya.
"sah mbahmu,gila saja. Mana ada istri yang membiarkan suaminya dikejar gerombolan zombie homo yang nyaris memperkosa suaminya. Sedangkan dia sendiri asik main GR dan Coc. Lagipula bencana ini baru terjadi 5 bulan lalu dan aku masih berumur 18 tahun ! Belum siap untuk menafkahi anak dan istri. Dikiranya minato apa udah muda jadi hokage ke-4 lagi !" batinku dalam hati, tentu saja dengan senyuman manis diwajahku. Aku tidak ingin membangkitkan Kyubi ditubuhnya dengan senjata Excalibur Omega dan Sigma yang dicurinya dari Gintoki. Seusai dia mandi, aku masih sibuk menyiapkan perlengkapan untuk kami besok.
"M4A1 cek, Desert Eagle cek, P3K cek, Asuka. Besok kita akan ke sektor 3, kita diminta untuk membantu survivor disana. Mereka akan menjarah sebuah rumah sakit, rumornya ada banyak obat dan antibiotik serta serum untuk mencegah penularan zombie lewat gigitan sebelum 8 menit setelah digigit. " kataku pelan sambil menaruh bayonet yang biasa kubawa diatas meja.
"hmm, hadiahnya apa ? Rei sayang." jawabnya dengan memelukku dari belakang. Tentu saja setelah memakai bajunya,jika tidak. Aku takut imanku akan goyah.
" sekotak serum yang kubicarakan tadi,2 orang survivor baru dan royalti guild " jawabku sambil tersenyum.
"begitu ya, yasudah. Ayo kita tidur sayang."
Aku menurut saja dan ikut kepembaringan kami. Dia tidak komplain tentang bau badanku yang beraroma darah dan keringat sehabis bermarathon ria dengan para zombie.

22-04-2122
10.00 A.M

Paginya kami sudah berada tepat didepan sebuah rumah sakit yang telah ditandai oleh guild sektor 3 sebagai target perburuan. Disana telah berkumpul 6 orang dari sektor 3 dan 2 orang dari sektor 2.
Masing-masing mereka sangat kukenal.
Sektor 3 diduduki oleh para tentara yang tidak ditempatkan di Netral Zone (daerah netral manusia yang diisi orang-orang pintar dari seluruh negara dan bertugas untuk menemukan vaksinasi untuk melawan pandemik ini. Dan hanya tentara dari satuan terelit yang berhak menjaga Netral Zone seperti Kopasus,Navy Seal,USF,SAS dan lainnya).
Dari antara ke6 orang dari sektor 3 itu, aku mengenal Ralph. Dia berpangkat Kolonel dan sekarang memimpin teamnya untuk menjarah rumah sakit ini, juga ada Alfonso. Orang dari maluku yang kini disebut sektor 97,berbadan besar kekar. Ahli senjata berat ini adalah tangan kanan dari Ralph. Dan Jeniffer istri Ralph, ahli dalam senjata menengah seperti Mp5 ataupun UZI.
Sedangkan dari sektor 2, pasangan kakak adik. Gladys dan Gabriela, mereka adalah putri dari pemimpin sektor 2. Ahli dalam bidang hacking dan dalam persenjataan laras panjang.
" selamat datang, kalian dari sektor 1 ya ? Rei dan Asuka bukan ?" sambut Ralph didampingi istrinya.
"ya,kami dikirim Ani untuk membantu misi kali ini. Tapi kenapa sektor 4 dan 5 tidak mengirim orang juga ?" jawab Asuka sekaligus menanyakan perihal ketidakhadiran sektor 4 dan 5.
"mereka sudah memutuskan untuk bergabung dengan sektor timur,dan meninggalkan sektor barat." kali ini Jeniffer yang menjawab.
"bukannya itu sektor lawan kita ? Sektor yang diisi sektor 6 sampai 10 ?" tanyaku kali ini.
"ya, mereka terperdaya oleh iming-imingan sektor timur. Padahal sektor timur adalah sektor terkotor, aku heran mengapa disaat pandemik terjadi. Manusia masih sempat memikirkan prostitusi,judi dan saling bunuh" jawab Ralph dengan mendengus kesal.
Sifat manusia memang bodoh dan serakah. Mereka tidak pernah berpikir untuk hal yang lebih baik. Yang kutau, sektor timur merupakan sarang pelacuran dan adu gladiator. Dimana seorang gladiator dipaksa untuk bertarung dengan puluhan zombie berbekal sebuah pedang saja.
Dan sektor 4 dan 5 pun bergabung dengan mereka. Sektor yang sudah lama menjadi musuh sektor barat.
"hei, sudah cukup basa-basinya, ayah menyuruh kami agar pulang lebih cepat seusai misi ini" celetuk Gabriela dari sektor 2.
"hei, gadis kecil. Jika kau takut , pulang saja dahulu. Kami tidak memerlukan anak-anak seperti kalian." ejek Alfonso sambil terkekeh, dipunggungnya tergantung M60. Senjata berat dengan 100 peluru.
"gorila berbicara, evolusi terbaru ya. " ejek saudari Gabriela, Gladys.
"apa kau bilang ? Bocah tengik" teriak Alfonso berang.
"Alfon,hentikan. Ingat misi kita!" perintah Ralph.
"maaf, Kolonel"
"Nona Gladys dan Gabriela, maafkan ajudan saya " sambungnya.
"Team berkumpul!" ujar Jeniffer memberi perintah. Seketika 3 tentara biasa dari sektor 3 turun dari Baracuda kemudian ikut bergabung dan mulai membahas rencana mereka. Begitupun aku dan Asuka.
"Baiklah, seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya. Tujuan kita disini untuk mengambil obat-obatan dan menyuplai ke sektor masing-masing. Tapi masalahnya, dirumah sakit ini ada Infected yang terkuat, kami menyebutnya Kakarot. Infected itu adalah seekor Gorila yang terinfeksi dan termutasi menjadi Gorila bertangan 6, seperti laba-laba. Ia juga bisa menyemburkan jaring yang sangat lengket,jadi berhati-hatilah. Ruangan obat-obatan tersebut berada dilantai 4 dan terkunci dengan komputer, kata sandinya hanya diketahui oleh dokter ahli yang ada dirumah sakit ini, dan sayangnya. Mereka sudah menjadi Infected. Oleh karena itu kami meminta sektor 2 mengirimkan 2 ahli hacking untuk membantu. Dan juga meminta 2 petarung jarak menengah dari sektor 1. Sekarang aku akan membagi team. Team pertama dipimpin Alfonso dan 2 bawahannya yaitu Michael dan Jonas. Kalian memimpin didepan dan pastikan semua infected termasuk Kakarot tidak bernafas lagi." ujar Ralph kepada Alfonso dan ke2 bawahannya yang sama-sama bertubuh besar dan kekar.
"siap " jawab mereka bertiga bersamaan.
" Team kedua dipimpin olehku. Team kedua anggotanya , Rei,Asuka,Jeniffer. Team kedua bertugas melindungi team ketiga yaitu Mutia,Gabriela dan Gladys. Serta mendukung dan membantu team pertama dari belakang " sambung Ralph lagi.
" siap " jawab kami bersamaan.
" cek perlengkapan selama 5 menit dan kembali ketempat ini setelah mengecek perlengkapan !" perintah Ralph.
Aku dan Asuka bergegas ke Bat Mobile kami dan mengecek peralatan medis serta amunisi dan senjata.
"Rei, aku pasti akan melindungimu" tegur Asuka disela kesibukan kami berdua mengecek kelengkapan peralatan.
Ahh, sial. Perkataan itu membuatku tersipu.
"Tidak sayang, aku yang akan menjagamu seutuhnya." jawabku mesra dan mencium bibirnya.
"Rei? Rei ! Ayo kita kembali berkumpul" tegur Asuka lembut dan membuyarkan khayalanku.
Uh, sial aku hanya berani di khayalan.
"b-baiklah" jawabku pendek kemudian berjalan mengikutinya.
"semua siap ?" ujar Ralph memastikan saat kami telah berkumpul.
"siap" kami menjawab bersamaan.
"baiklah, Alfonso. Bawa kami masuk" ujar Ralph lagi.
Kemudian Alfonso berjalan terdepan diikuti anak buahnya yang bersiap dibelakangnya,kemudian team 2 dan 3.
"dengan aba-abaku." perintah Alfonso diikuti dengan kedua anak buahnya mengarahkan M60 mereka kearah pintu.
"1"
"2"
"bunuhh !"
teriak Alfonso dan menendang pintu rumah sakit itu hingga terbuka.
Saat dikhayalanku kami disambut suster cantik dan sexy, saat ini malah disambut oleh ratusan zombie pasien,dokter dan suster yang bersamaan menyerbu kami.
Saat Alfonso berteriak bunuh, 3 senjata M60 itu memuntahkan ratusan timah panas yang menembus badan dan kepala para infected.
"pojokkan mereka ! Habiskan pelurumu anak-anak hyahyahya" Alfonso berteriak dan tertawa keras, sebuah Cerutu sudah terpasang dibibir tebalnya.
Para zombie yang disambut pelukan panas peluru M60 pun menjerit dikejar maut, peluru senjata M60 cukup brutal hingga membuat bagian tubuh zombie-zombie robek, bahkan ada yang kepalanya meledak terkena 2 peluru M60.
Setelah team 1 masuk dan terus menyerbu zombie didepan mata, Ralph memerintahkan team 2 segera masuk diikuti team 3.
Team 2 diperintahkan kembali untuk melindungi punggung team 1 dibantu team 3 seadanya.
M4A1 ku beradu cepat dengan FAMAS milik Ralph yang terus memuntahkan timah panas ketika zombie dari atas loteng melompat hendak menerkam kami. "reload" teriakku memperingatkan bahwa aku mengisi ulang peluru. Kemudian Asuka mengcoverku dengan Mp7nya, ia menghadiahkan puluhan peluru kearah zombie yang hendak mendekatiku. Dan Jeniffer bergerak kearah lorong dikiri diikuti Ralph untuk menggempur serangan dari zombie yang banyak.
"reload" gantian Asuka yang memberi peringatan dan aku mendekati Asuka sambil memuntahkan puluhan peluru kearah zombie-zombie menjijikkan itu. Kepulan asap memenuhi lantai dasar rumah sakit diikuti suara rentetan senjata api dan darah dari para zombie. Team 3 membantu seadanya dengan handgun mereka, Mutia dari sektor 3 hampir saja digigit oleh zombie. Untungnya Gladys mempunyai reflek yang cepat dan menancapkan peluru tumpul Glocknya dikepala zombie itu.
"ah, terimakasih Gladys. Hampir saja" ujar Mutia menarik nafas panjang dan tersenyum.
Pertempuran antara kami terus berlanjut hingga kelantai 4. Senjata kami tidak pernah berhenti memuntahkan isinya kearah para zombie yang menyerbu kami. Formasi kami telah berubah saat kami tiba diruangan yang kamu incar. Ternyata benar, keamanannya merupakan tingkat internasional. Terbukti trio hacker dari team 3 saja kesulitan memecahkan kata kunci ruangan tersebut. Anak buah Alfonso berjaga lorong menuju ruangan ini sedangkan Team 2 beristirahat sejenak sambil menjaga team 3 untuk membuka ruangan berisi obat itu.
Alfonso tampak menikmati menatap kepala zombie suster yang terlepas, memang sedikit romantis tapi tetap saja mengerikan bagiku. " Mutia, apa ada perkembangan ?" tegur Ralph tak lama kemudian saat ia tengah membersihkan bayonetnya yang kotor oleh darah. Ohya, selama pertempuran dilantai 3, Ralph menggunakan bayonet untuk membantai para zombie bodoh itu. Meski berbahaya, Ralph telah terlatih untuk mengandalkan bayonetnya ketika bertempur.
" Gotcha, kolonel sudah selesai ! Pintunya sudah dibuka " Mutia melapor dengan senyuman bangga.
"baiklah, Alfonso. Perintahkan teammu untuk berjaga dan bersiap ! Kami akan mengisi penuh ransel kami dengan obat-obatan ini! " Ralph memberi perintah dengan cepat dan Alfonso segera bergabung dengan teamnya untuk berjaga, sementara team 2 dan 3 terus mengisi ransel kami dengan obat-obatan. Saat kami berusaha mengisi penuh tas kami,tiba-tiba.
"wraughhh.. Grrrr.."
telinga kami mendengar raungan dan diikuti dengan tembakan M60 yang membabi buta, juga terdengar teriakan brutal dari Alfonso yang terdengar mengamuk. "cepat ! Segera isi penuh tas kalian dan kita bergerak !" ujar Ralph yang lebih dahulu sadar dari keterkejutan kami.
"baik !" jawab Jeniffer diikuti oleh kami semua.
Sementara rentetan senjata semakin terdengar dekat, pertanda Alfonso dan teamnya dipaksa untuk terus mundur sambil menembak.
"Keparat ! Lepaskan Jonas !" kembali teriakan Alfonso terdengar dan tembakan terdengar makin gencar.
" Jeniffer, kita harus siap dengan kemungkinan terburuk ! Oleh karna itu, kau harus memimpin team ini keluar dengan selamat, aku dan Alfonso akan menahan monster itu !" ujar Ralph sembari menyerahkan tasnya pada istrinya,Jeniffer. "tapi ? Tidak Kolonel, kita harus keluar bersama !" jawab istrinya sambil menolak tas yang diberikan Ralph.
"Jeniffer ! Ini perintah dari kolonelmu ! Patuhi dan serahkan tas ini pada Komandan !" kata Ralph lagi sedikit berteriak.
"Ralph..." Jeniffer mulai terisak, suaminya memang kolonel yang harus dipatuhi. Tapi sebagai seorang istri Jeniffer tidak menginginkannya. "wah-wah, kau membuat istrimu menangis" celetuk Asuka tiba-tiba.
"Maaf,tapi ini adalah perintahku sebagai pimpinan kalian ! Kalian harus membawa istriku keluar dari tempat ini bersama kalian, selagi aku dan Alfonso akan menahan Kakarot." jawab Ralph sambil menatap istrinya.
"kau tak seharusnya membuatnya menangis, kapten. " ejek Asuka.
"jika aku jadi kau, lebih baik aku korbankan anggotaku daripada harus mengorbankan diri dan membuat orang yang kucintai menangis" sambungnya lagi sambil melirikku.
"apa !" jawabku dengan tatapan tajam ke Asuka.
"Asuka benar kolonel, kau membawa kami ketempat ini. Kau yang harus membawa kami keluar !" celetuk Gabriela yang pada awalnya tampak tidak perduli padahal dia sebenarnya peka (ciaelahh jones seneng nih).
"Diam ! Kalian semua patuhi perintahku ! Dan lakukan saja apa yang kusuruh !" Tiba-tiba Ralph berteriak.
"kalian pikir aku tidak ingin selamat ? Tapi jika aku egois, aku takut kalian akan menjadi korban keegoisanku juga ! Lebih baik aku membiarkan kalian pergi dulu selagi aku mengalihkan perhatiannya ! Cara itu akan berhasil untuk mensukseskan misi ini !" teriaknya dengan mata berkaca-kaca. Seperti bocah yang tidak diberikan permen.
Aku kagum dengan kata-kata tajam dari wanita yang mampu menembus hati baja Kolonel Ralph.
" yasudah-yasudah, ayo Jeniffer, tinggalkan suamimu yang bodoh " ejek Asuka lagi sembari menarik tangan Jeniffer.
"ya , betul juga. Ayo tinggalkan pria bodoh ini dengan aksi heroiknya. Jika dia mati, kau bisa menikahi pria yang lebih tampan dan gagah Jeniffer" tambah Gabriela dengan tatapan sinis diikuti Gladys.
"ma-maafkan saya kolonel,tapi mereka benar, kolonel Ralph bodoh" tambah Mutia juga namun tidak sekasar dan setajam tatapan Gabriela. Hingga tersisa aku bersama kolonel diruangan tersebut.
"ng.."
"kau juga pergi Rei, aku akan menahannya." ujarnya padaku
"kolonel,kesuksesan misi ini akan tercapai bila pimpinan ikut selamat dengan bawahan. Kau tidak perlu berkorban,dengar. Istrimu dan kekasihku tengah bertempur melawan Kakarot itu. Alfonso juga dengan Mutia, Gabriela dan lainnya. Mengalahkannya pasti bisa kita lakukan asal kita bersama menumbangkannya. Bagaimana ?" ujarku dengan bijak. Aku heran,orang setampan aku biasanya akan sok keren dan keceh seperti Sasuke Uchiha,dan pendiam. Tapi aku malah lebih sok bijak ketimbang Naruto dan Luffy. Kata-kata itu mengalir saja dari bibir ranumku bagaikan air.
Namun tembakan membabi buta diluar ruangan itulah yang membuatku dapat mengatakan hal terbijak dalam hidupku.
Tembakan dari survivor yang ingin selamat dari keganasan kingkong laba-laba diluar sana.
"aku keluar dulu, teamku membutuhkanku. Mungkin juga membutuhkanmu" sambungku kemudian saat Ralph tidak merespon mutiara pagi dariku.
" Hya, Kakarot akan kubuat kau menjadi Kakashi " teriakku menggila diluar sana sambil mengarahkan M4A1 ku kearah Kakarot dan.
Blarr...
"wraughhh.." jeritan Kakarot menggetarkan lantai 4 rumah sakit tersebut. Ledakan yang mengenai wajahnya berasal dari M4A1 ku yang dilengkapi dengan Grenade Thrower. Saat Kakarot tengah kesakitan, Ralph pun muncul dari ruangan obat dengan menggendong tas berisi obat-obatan yang dikumpulkannya.
"Alfonso, Michael tembaki terus wajahnya agar ia terpojok! Yang lain segera ikuti aku dan membersihkan jalan kabur kita ! Ayo jangan biarkan seorangpun tertinggal !" teriaknya lantang.
Kami tersenyum bersamaan dan mematuhi perintahnya.
"makan tu pelorr ! Gorila brengsek! " teriak Alfonso dengan amukannya. Ia terus menghujani wajah Kakarot dengan M60 nya diikuti Michael yang tak kalah ganas. Mereka menembaki Kakarot sambil berjalan mundur mengikuti team 2 dan 3.
Sedangkan Ralph memimpin team 2 dan 3 sambil menembaki zombie-zombie yang tersisa. M4A1 ku sudah mulai kehabisan peluru, jadi kukalungkan saja dipunggungku dan kuganti dengan Desert Eagle yang kusarunkan dipocket pinggangku.
Lantai demi lantai kami lewati dengan hati-hati sambil menembaki para zombie.
Sampai dilantai dasar kami bergegas keluar dari rumah sakit itu dan menaruh obat-obatannya dimobil kami sendiri.
Aku dan asuka segera mengisi ulang M4A1 dan MP7 kami kemudian mengambil ancang menembak didekat Baracuda milik Ralph. Ralph sendiri telah bersiap diatas Baracudanya dengan sebuah Gutling gun, senjata terganas abad 21. Mampu menembakkan ratusan timah panas perdetik,dan Jeniffer serta mutia bersiap dengan MP5 mereka. Sedangkan Gabriela dan Gladys memasang AWP Magnum mereka dan mengambil posisi menembak.
Suasana menjadi hening, namun itu hanya sebentar. Karena saat Alfonso dan Michael berhasil berlari keluar. Kakarot telah mengikutinya dari belakang.
"Wraughh.." raungnya ganas.
"tembak !" teriak Ralph yang duluan melontarkan peluru tajam kearah Kakarot diikuti tembakan dari kami bersama. Peluru tajam AWP milik Gabriela dan Gladys berhasil memecahkan mata Kakarot dan peluru gabungan dari Ralph dan ledakan bomb dari M4A1 ku menumbangkan Kakarot dengan tubuh berlubang.
"hah..hah..hah.." dengusan nafas kami seolah berlomba. Aku tak pernah menyangka akan selelah ini hanya untuk 1 misi. Setelah 10 menit mengistirahatkan diri kami kembali berkumpul.
" jadi, hanya Jonas yang gugur? " Ralph mendesah pelan dan menunduk.
" Maafkan aku Kolonel ! Sebagai pemimpin aku telah lalai sehingga Jonas terbunuh oleh monster itu" jawab Alfonso menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak Alfon, pimpinan tertinggi sekarang adalah aku. Jadi aku yang bertanggung jawab. " jawab Ralph sambil tersenyum.
"kalian tidak bersalah" celetuk Asuka.
"sebagai pemimpin kalian telah bertugas dengan baik, pengorbanan Jonas tidak sia-sia. Buktinya kita berhasil membawa obat ini dan membunuh kakarot berkatnya. Kita harus menghargai jasanya, jadi tidak perlu merasa kehilangan. Selama kita masih punya semangat untuk melindungi orang yang kita cintai, maka semangat itulah yang akan membuat Jonas hidup !" sambungnya lagi dan memeluk lenganku. "benar kan ? Sayang" tambahnya lagi.
"i-iya" jawabku kikuk.
"wah, aku iri melihat kalian" ledek Jeniffer yang kini memeluk Ralph. Mereka sudah baikkan.
"hei bocah, tak kusangka kalian hebat juga" kata Alfonso pada Gabriela dan Gladys.
"hah, kau baru tau kan ? Om-om jelek !" ledek Gladys.
"apa kau bilang !"
Alfonso pun mengejar Gladys yang tetap meledeknya sambil berlari.
"kuharap dengan misi ini kita dapat terjalin kuat, agar dapat saling membantu untuk melawan pandemik ini." kata Ralph sambil tersenyum padaku dan Asuka.
"tentu saja, Kolonel" balas Asuka dengan senyuman manisnya. Kami kembali kemobil kami masing-masing, dan sebelum berpisah Ralph sempat memberitahukan tentang hadiah dari misi ini.
"ohya, seperti janji kami. Besok kami akan mengirim sepaket serum pembunuh virus ini dan dua survivor yang telah kami latih, ke sektor 2 dan 1. Sampaikan salamku pada ayah kalian ya Gabriela dan Gladys. Ohya juga buat Ani Dwijaya." kata Ralph. Seusai menyampaikan hal tersebut, Baracuda tempur milik sektor 3 itu melaju dan menabrak hancur tembok rumah sakit. Tentu saja Alfonso dan Michael yang menyetir, mereka melindas habis zombie dijalan raya diikuti mobil dari dua bersaudari sektor 2 dan Bat Mobileku.
Selama perjalanan pulang, Asuka tertidur. Manis juga melihat wajah kelelahannya. Hah, kuharap pandemik ini tidak akan cepat berakhir. Aku terlalu menikmatinya.

Dead Zone Sector 1
23-04-2122, 09.00 A.M
Survivor Camp : Silver Queen Guild

Pagi yang cerah, kuawali dengan membuka jendela kamarku dan meliha sekelompok anak-anak berlatih menembak dan memegang bayonet. Indahnya, jika aku punya anak kelak akan kunamai Antonius,mungkin juga Spongebob.
Namun lamunanku buyar saat seorang penjaga memaksaku beranjak dari kamarku.
" Rei ! Rei ! Kau punya adik ? " teriak penjaga itu dari luar kamarku.
Mendengarnya Asuka langsung bangun dan membuka pintu.
"kau bilang adik ? Adik perempuan ?" langsung saja penjaga itu dihujani pertanyaan dan tatapan membunuh dari Asuka.
"i-iya, adik perempuannya adalah salah satu survivor yang dikirim sektor 3" jawab penjaga itu dengan gugup.
Clingg.
Tatapan mata membunuh Asuka kini tertuju padaku Yang dari tadi hanya menganga.
"mati aku" batinku dalam hati.

To Be Continued

Part2 :
Deadly Woman !

" Haaa ! Rei punya adik seimut ini ? " Teriakan histeris Ani membuatku tambah mual.
Karna tatapan membunuh dan aura Asuka makin membesar dan tertuju padaku.
"Ka-kak, Rei " ucap gadis itu pelan dengan memiringkan kepalanya. Imut sih tapi aku ngeri pada Asuka. Stay Tune Coegz :v


Tidak ada komentar:

Posting Komentar