Dead Zone Sector 1
23-04-2122, 09.02 A.M
Survivor Camp : Silver Queen Guild

Haruka Fujiwara
" Haaa ! Rei punya adik seimut ini ? " Teriakan histeris Ani dipagi hari membuatku tambah mual.
Karna tatapan membunuh dan aura Asuka makin membesar dan tertuju padaku.
"Ka-kak, Rei " ucap gadis itu pelan dengan memiringkan kepalanya. Imut sih tapi aku ngeri pada Asuka, aku membayangkan jika dijadikan dummy tembak olehnya. Oh Tuhan, kemarin kakarot dan sekarang adik perempuan ? Lagipula sejak kapan aku punya adik ? Kata ayah, ibu meninggal saat aku berumur 2 tahun. Saat itu aku masih super duper lucu, tante-tante sexy kenalan papa sampai berebutan untuk menggendongku dan sekarang aku punya adik ? Adik perempuan !.
Survivor Camp : Silver Queen Guild
Haruka Fujiwara
" Haaa ! Rei punya adik seimut ini ? " Teriakan histeris Ani dipagi hari membuatku tambah mual.
Karna tatapan membunuh dan aura Asuka makin membesar dan tertuju padaku.
"Ka-kak, Rei " ucap gadis itu pelan dengan memiringkan kepalanya. Imut sih tapi aku ngeri pada Asuka, aku membayangkan jika dijadikan dummy tembak olehnya. Oh Tuhan, kemarin kakarot dan sekarang adik perempuan ? Lagipula sejak kapan aku punya adik ? Kata ayah, ibu meninggal saat aku berumur 2 tahun. Saat itu aku masih super duper lucu, tante-tante sexy kenalan papa sampai berebutan untuk menggendongku dan sekarang aku punya adik ? Adik perempuan !.
kurasa Rei bisa menjelaskan ini. Benar bukan ? SAYANG" penekanan dinada sayang sudah membuatku yakin 1000%. Asuka cemburu banget sumpah !.
"a-apa ? Aku tidak punya ibu sejak berumur 2 tahun ! Jadi mana mungkin aku punya adik !" pembelaan diri ini mungkin tepat, tapi tatapan mengerikan dari Asuka dan auranya kuat banget coyy !.
Sumpah, super saiyan dan kyubi pun kalah kuat. Inikah kekuatan terkuat dipihak manusia yang akan mengalahkan Orochimaruuu !.
"ng.. Ibu hanya bercerai dengan ayah, dan ibu membawaku pergi. Ayah yang merawat kak Rei, ini ada buktinya" ujarnya menyerahkan foto sepasang balita. Yang lebih besar berambut coklat dan super duper imut, sepertinya itu aku. Yang satunya cuman merangkak tapi imut banget, bagaikan bakwan dibelah dua.
"eh eh ? Tapi tap-"
"tapi apa ? Koro-sensei" potong Asuka dengan bayonet yang siap dilemparnya.
Apa-apaan itu ! Sampe bikin panggilan aneh, makin ngeri gue mahh ! .
"Tenang, kau harus tenang Rei " batinku.
"ng.. Namamu siapa ? " tanyaku tentunya sambil berusaha menghindari tatapan Asuka.
" ng, Fujiwara Haruka. Dan ini temanku, Jaka Saputra " jawab gadis yang mengaku bernama Haruka jekate 48 yang mengaku-ngaku sebagai adikku agar dapat diakui dia mengaku punya bukti agar aku mengakui yang sebenarnya. Dawg desu.
"Fu-fujiwara ?" Asuka kembali memotong, aku takut untuk menoleh ! Oh papa tolonglah aku.
"dia semarga denganmu! FUJIWARA REI" Ani kembali menambah cabai rawit sehingga Asuka meledak dan hampir saja bumi hancur karenanya.
"wah , jadi benar ! Kita memang bersaudara, Onii-chan" pekik Haruka sambil memelukku.
"MATI AKUUU!" tangis dan jeritku dari hati.
"Mati Aku ! Mati ! Seribu kali mati ! Asuka akan membunuhku ! " pekikku dalam hati.
" REI ! " Asuka berteriak sambil melempar bayonetnya kearahku, namun tiba-tiba Haruka menangkap bayonet itu tepat dipegangannya dan melempar balik namun sedikit meleset dan hanya mengenai sedikit rambut Asuka dan menancap didinding.
"jangan ganggu kakakku." ujarnya kemudian dengan tatapan sayu,matanya terlihat kosong. Asuka tidak kalah terkejutnya denganku.
"Ha-haruka, dia pacarku,ng kakak." ujarku kemudian sambil melepas pelukan Haruka.
"ah, pacar kakak ya. Maaf, tadi hanya reflek" ujarnya ceria sambil mendekati Asuka dan menjulurkan tangan.
"namaku Haruka, semoga kita bisa menjadi kakak adik yang baik juga" Haruka memperkenalkan dirinya dengan baik dan diiringi senyuman manisnya.
"i-iya, namaku Asuka" jawab Asuka belum sadar dari keterkejutannya.
"Ohya, bagaimana denganmu Jaka. Kau sudah berapa lama berteman dengan Haruka ? Dan apa keahlian khususmu" Kini Ani yang unjuk suara dan ditujukan untuk survivor yang dikirim sektor 3 juga.
"aku tipe menengah, keahlianku hanya medis. Tapi aku juga bisa memakai senjata seperti M4A1 sejenisnya. Ng, aku baru berteman dengan Haruka 2 hari yang lalu. " jawab Jaka dengan nada ragu.
" bagaimana dengan Haruka ?" tanya Ani kini pada Haruka.
"aku mahir melempar pisau dan aku menguasai 20 cabang bela diri baik militer maupun umum. Aku juga mahir menggunakan segala jenis senjata jarak dekat,bayonet,pedang,parang,tombak,pentungan." jawab Haruka dengan enteng dan tersenyum.
"lumayan juga, Rei mulai hari ini. Kau dan Asuka akan berpartner dengan Haruka dan Jaka. Kalian team terakhir yang belum memiliki Brawler dan Medic, jadi kalian bekerjasamalah." ujar Ani.
"tapi ketua, aku merasa kami berdua saja sudah cocok" protesku dengan wajah keberatan.
"tidak ada komplain, besok kalian bergabung dengan team 06 diselatan sektor 1. Aku mendapat kabar mereka berhasil melacak pangkalan udara milik militer yang tidak digunakan, disana masih banyak helikopter dan pesawat yang mungkin akan berguna nantinya. Jadi tugas kalian, bantu mereka untuk membereskan para infected disana. Ohya aku juga mendapat kabar dari sektor 3, selamat Rei kau bekerjasama dengan Kolonel Ralph untuk membunuh mutant terganas disektor 3. Dan sekarang pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir,itu semua berkatmu." ujar Ani berpanjang lebar.
"hm, aku mengerti. Sudahlah hal seperti itu dibahas. Membuat malu saja ehehehe" jawabku seenak dengkul.
" yatta, kak Rei hebat sekali. Bisa menumbangkan mutan
terkuat disektor 3. Kalau Haruka hanya bisa membunuh seekor Sphinx " pekik
Haruka dengan mata berbinar padaku.
"Sphinx ?" Aku cukup bingung ketika mendengar nama Sphinx,bukankah itu patung singa berkepala manusia dimesir.
"apa katamu ? Sphinx !" tanya Ani guna memastikan perkataan Haruka tadi. Ani terlihat terkejut.
"d-dia..." sambung Asuka tidak kalah terkejut.
"eh ada apa ?" jawab Haruka dengan wajah bingung.
"apa kau gladiator dari sektor 6 ? Kau membunuh singa gila ? Sphinx !" Ani kembali melancarkan pertanyaannya dengan tatapan serius.
"sektor 6?" gumamku ragu. Aku tidak mengerti ada apa dengan wanita, wanita selalu menciptakan suasana aneh dimana hanya sesama wanitalah yang mengerti.
"wah, kakak Ani tau darimana ? Iya, Haruka yang membunuh Sphinx. Bukankah sudah diumumkan keseluruh sektor 1 sampai 10 ?" jawab Haruka dengan entengnya.
"hei-hei, ada apa ini ?" kataku memotong pembicaraan mereka yang tampaknya sangat serius.
" Rei, Sphinx itu mutan seperti Kakarot. Semua sektor memiliki mutan terkuat, salah satunya Sphinx sektor 6 dan Kakarot sektor 3. Tapi tak kusangka, mereka mati ditangan kakak beradik"
jawaban Ani membuatku terkejut.
"dan juga, Sphinx sebenarnya berhasil ditangkap. Tapi kudengar ada kekacauan di sektor 6, dimana ratusan survivor memberontak kepada Gatot. Pemimpin guild Siliwangi Tiger. Dan pimpinan pemberontak itu berhasil ditangkap Gatot dan dipaksa bergladiator melawan Sphinx,terakhir kabarnya mutan itu kalah. Tapi tak kusangka, adikmulah yang membantai Sphinx." sambungnya lagi.
" tapi, bagaimana ia bisa kesektor 3 ?" Asuka kembali bertanya dengan tatapan tak kalah serius.
"ceritanya panjang,pokoknya waktu kolonel Ralph kembali dari misi. Aku diberitau bahwa besok aku dan Jaka akan dikirim ke sektor 1 sebagai hadiah. Tidak kusangka bertemu kakak Rei, kya ! Kakak Rei! " jerit Haruka dengan wajah ceria lagi sambil menyerangku dengan pelukan.
"e-ehh ! Jangan main peluk dong" tolakku sambil menghindar.
"kak Rei tidak suka dipeluk Haruka ? Hiks.. Hiks.." tanyanya dengan airmata yang mulai jatuh.
"wah wah, kau membuat adikmu yang manis itu menangis." ledek Ana yang dari tadi hanya berdiam diri memperhatikan.
"tapi tapi !"
"sudahlah Rei, tidak apa aku membagi tubuhmu dengan adikmu" celetuk Asuka dengan fake smile.
"aku jadi kelihatan jahat" batinku dengan wajah tidak ikhlas. Lagipula apa maksud Asuka dengan membagi tubuh, bakal ada yang salah paham kan.
"kalau denganku bagaimana." kata Ani dengan kedipan mata dan jilatan lidah dibibir tipisnya.
Uh, imanku digoda oleh Ani. Baru saja kubilang ada yang bakal gagal paham, eh udah nongol aja.
Asuka hanya menjawab dengan senyuman pahitnya.
Aduh, aku tidak tega melihat orang yang mencintaiku sepenuh hati selama ini tersakiti.
Dengan jentelnya aku memeluk Asuka dan membisiki romansa mesra padanya. Pipinya bersemu merah,sewarna dengan hamparan sakura dimusim semi dan juga salju.
Hah,jalan kehidupan hanya bisa dilewati dengan tekad. Tapi takdir tetap ditentukan Tuhan.
That's our quote of the day. Enjoy your lunch.
Dead Zone Sector 1
24-04-2122, 15.00 P.M
Military Airport

Pangkalan udara milik militer memang besar, dari jauh kami sudah dapat melihat beberapa pesawat tempur dan helikopter yang tidak beroperasi.
Aku,Asuka,Haruka dan Jaka tengah dalam perjalanan untuk membantu team 06 didaerah selatan sektor satu. Cukup jauh namun jika kami berhasil, kami dapat menggunakan pesawat tempur serta helikopter itu.
"kak Rei, sudah berapa lama pacaran dengan kak Asuka ?" tanya Haruka dengan tiba-tiba padaku.
"um,kira-kira 2 tahun setengah." jawabku dengan tetap konsentrari pada jalanan. Memang jalanan sektor 1 sudah sepi,tapi kadangkala ada 1 atau 2 zombie yang tersesat jadi harus dihindari.
"wah sudah lama juga ya." sambung Jaka dengan senyuman.
"begitulah" jawabku pendek.
"kak Asuka sendiri kenapa bisa suka kak Rei?" Haruka kembali bertanya.
"apa ya, ada suatu hal yang pernah dia lakukan dan membuatku jatuh cinta padanya. Kau tau, seperti ini dan itu. " jawab Asuka seenaknya. Sontak saja wajahku memerah,apalagi saat Jaka dan Haruka tertawa.
"wah kak Rei mesum, kak Asuka di ini ituin, tar ada dedek deh, hahaha" ejek Haruka. Sedangkan Asuka hanya cengengesan dan memperhatikan Desert Eagle ditangannya.
Namun kami dikejutkan dengan rentetan senjata api yang berasal dari pangkalan udara militer.
"Rei ! Itu ?" kejut Asuka. Ia tidak sendirian, kami juga terkejut. Dari kejauhan sudah terlihat puluhan survivor tengah menembaki ratusan zombie yang berlari kearah mereka.
"kita terlambat"
Dead Zone Sector 1
24-04-2122, 15.10 P.M
Military Airport
(POV 3)
"Sial ! Kita terpojok ! Hoi, tembaki mereka ! Kita harus bisa merebut pangkalan ini !" teriak salah seorang survivor berambut reggae diikat kebelakang yang tengah membredeli zombie-zombie dengan Gutling Gun.
"arghh ! Tolong aku Benta " teriakan seorang survivor lain terdengar saat tubuhnya dicabik-cabik dan dibantai oleh segerombolan zombie.
"sial !" umpat pria bernama Benta yang memegang Gutling Gun melihat temannya dibantai oleh zombie ganas. Yang terlihat hanyalah tangan temannya yang menjulur keatas saat daging empuknya disantap dan dirobek oleh para zombie.
Zombie yang menyerang seperti tidak ada habisnya, dan satu persatu survivor dibantai hingga tersisa 7 orang saja dari 15 survivor.
Tiba-tiba sebuah granat terlempar kekerumunan zombie.
Duarrr !!
Ledakan granat membuat puluhan zombie meregang nyawa diudara dengan bagian tubuh hancur berceceran,seketika terjadi hujan darah.
"maaf kami terlambat" teriakan dari seseorang dari belakang membuat Benta dan survivor yang tersisa menoleh. Terlihat dibelakangnya telah muncul 3 Humvee dan satu mobil sport berwarna hitam mengkilap, tentu saja milik team Rei. Sedangkan 3 Humvee dibelakang mobil Rei adalah mobil dari team 06. Kemudian anggota team 06 turun dari Humvee mereka dan membantu survivor yang tersisa untuk membersihkan zombie-zombie yang berlomba-lomba meraung kelaparan.
Rei,Asuka,Haruka dan Jaka ikut meramaikan pesta dengan senjata api mereka masing-masing. Butuh waktu 10 menit untuk menghabisi para infected yang kebanyakan adalah tentara yang terinfeksi. Desingan peluru terus beradu menancap ditubuh para zombie hingga zombie terakhir tumbang dengan kepala buntung.
"hosh..hosh..hosh" deru nafas para survivor beradu dengan denyutan jantung mereka.
"Benta ! Dasar kau tolol ! Misi ini diserahkan pada team 06 ! Mengapa kau ikut campur" tiba-tiba pimpinan team 06 berteriak berang pada Benta.
Semua terdiam mendengar teriakan pimpinan team 06,dikarenakan perawakannya yang tinggi kekar membuat nyali jadi ciut.
"maafkan aku bang,aku hanya ingin merebut pangkalan militer ini" jawab si Benta dengan kepala tertunduk,tidak berani menatap pimpinan team 06.
"brengsek pula kau !" teriaknya lagi disertai tinjuan yang membuat Benta terpental agak jauh.
"Bario Tampubolon, pemimpin team artileri 06 sektor 1. Dan adiknya, Benta Tampubolon pemimpin team 07 sektor 1." bisik Asuka pada Rei. Rei hanya mangut-mangut.
"berkat kau ! Team kau mampus semua ! Selamat, kau merupakan pemimpin yang cerdas ! Cerdas jika kuhantam batok kepala kau ke beton tu !" teriak pimpinan team 06 yang bernama Bario.
"maaf bang, aku hanya mau membantu kau" jawab Benta dengan menahan sakit dipelipisnya yang berdarah akibat tinjuan keras abangnya.
"bangsat kau ! Kau lihat dengan team kau ? Mampus 8 orang kau bisa hidupkan lagi hah ?" teriak Bario semakin berang dan kembali berniat melayangkan tinjuannya. Namun lengannya ditahan oleh anak buahnya.
"cukup lah Bar, dia adik kau ! Jangan kau bantai dia,ingat misi kita" tegur anak buah Bario yang tak kalah kekar dengannya.
"tapi kepalanya itu batu Alan, kau sudah tau dari dulu kan !" jawabnya dengan logat batak.
"sudahlah, yang penting zombienya sudah mampus. Ayo sekarang kita tuntaskan misi kita." jawab Alan.
"hem, yasudah terserah kau saja Lan, tapi si tolol itu kau suruh berjaga disini !" kata Bario mengalah kepada temannya disusul anggukan Alan.
"hei Benta ! Bersyukurlah kau kita punya ibu yang sama! " sambung Bario dengan teriakan. Kemudian ia berjalan kembali ke Humvee nya.
"kenapa kalian diam ! Ayo kembali kemobil, kita susuri pangkalan militer ini. Kali saja ada zombie tersisa." teriaknya lagi dari belakang setir.
Mendengar perintah Bario, semua anggota team 06 langsung kembali ke humvee masing-masing.
"Benta, kau berjaga dengan dua teman kau disini. 4 orangnya ikut kami. Jangan kau langgar perintahku kali ini, kau taulah abangmu" tegur Alan pada Benta yang tengah duduk lemas.
"baik bang,terimakasih" jawab Benta lemas.
" Jonathan dan Darto, kau berdua temani aku disini! Sisanya bawa motor berboncengan dan ikuti bang Alan." sambung Benta, tanpa banyak bicara orang yang disuruh Benta mengikuti team 06 beranjak ke motorcross mereka.
Alan mengalihkan pandangannya kearah Rei dan memberi kode mereka akan bergerak, Rei mengerti dan mereka kembali memasuki bat mobile.
"Sphinx ?" Aku cukup bingung ketika mendengar nama Sphinx,bukankah itu patung singa berkepala manusia dimesir.
"apa katamu ? Sphinx !" tanya Ani guna memastikan perkataan Haruka tadi. Ani terlihat terkejut.
"d-dia..." sambung Asuka tidak kalah terkejut.
"eh ada apa ?" jawab Haruka dengan wajah bingung.
"apa kau gladiator dari sektor 6 ? Kau membunuh singa gila ? Sphinx !" Ani kembali melancarkan pertanyaannya dengan tatapan serius.
"sektor 6?" gumamku ragu. Aku tidak mengerti ada apa dengan wanita, wanita selalu menciptakan suasana aneh dimana hanya sesama wanitalah yang mengerti.
"wah, kakak Ani tau darimana ? Iya, Haruka yang membunuh Sphinx. Bukankah sudah diumumkan keseluruh sektor 1 sampai 10 ?" jawab Haruka dengan entengnya.
"hei-hei, ada apa ini ?" kataku memotong pembicaraan mereka yang tampaknya sangat serius.
" Rei, Sphinx itu mutan seperti Kakarot. Semua sektor memiliki mutan terkuat, salah satunya Sphinx sektor 6 dan Kakarot sektor 3. Tapi tak kusangka, mereka mati ditangan kakak beradik"
jawaban Ani membuatku terkejut.
"dan juga, Sphinx sebenarnya berhasil ditangkap. Tapi kudengar ada kekacauan di sektor 6, dimana ratusan survivor memberontak kepada Gatot. Pemimpin guild Siliwangi Tiger. Dan pimpinan pemberontak itu berhasil ditangkap Gatot dan dipaksa bergladiator melawan Sphinx,terakhir kabarnya mutan itu kalah. Tapi tak kusangka, adikmulah yang membantai Sphinx." sambungnya lagi.
" tapi, bagaimana ia bisa kesektor 3 ?" Asuka kembali bertanya dengan tatapan tak kalah serius.
"ceritanya panjang,pokoknya waktu kolonel Ralph kembali dari misi. Aku diberitau bahwa besok aku dan Jaka akan dikirim ke sektor 1 sebagai hadiah. Tidak kusangka bertemu kakak Rei, kya ! Kakak Rei! " jerit Haruka dengan wajah ceria lagi sambil menyerangku dengan pelukan.
"e-ehh ! Jangan main peluk dong" tolakku sambil menghindar.
"kak Rei tidak suka dipeluk Haruka ? Hiks.. Hiks.." tanyanya dengan airmata yang mulai jatuh.
"wah wah, kau membuat adikmu yang manis itu menangis." ledek Ana yang dari tadi hanya berdiam diri memperhatikan.
"tapi tapi !"
"sudahlah Rei, tidak apa aku membagi tubuhmu dengan adikmu" celetuk Asuka dengan fake smile.
"aku jadi kelihatan jahat" batinku dengan wajah tidak ikhlas. Lagipula apa maksud Asuka dengan membagi tubuh, bakal ada yang salah paham kan.
"kalau denganku bagaimana." kata Ani dengan kedipan mata dan jilatan lidah dibibir tipisnya.
Uh, imanku digoda oleh Ani. Baru saja kubilang ada yang bakal gagal paham, eh udah nongol aja.
Asuka hanya menjawab dengan senyuman pahitnya.
Aduh, aku tidak tega melihat orang yang mencintaiku sepenuh hati selama ini tersakiti.
Dengan jentelnya aku memeluk Asuka dan membisiki romansa mesra padanya. Pipinya bersemu merah,sewarna dengan hamparan sakura dimusim semi dan juga salju.
Hah,jalan kehidupan hanya bisa dilewati dengan tekad. Tapi takdir tetap ditentukan Tuhan.
That's our quote of the day. Enjoy your lunch.
Dead Zone Sector 1
24-04-2122, 15.00 P.M
Military Airport
Pangkalan udara milik militer memang besar, dari jauh kami sudah dapat melihat beberapa pesawat tempur dan helikopter yang tidak beroperasi.
Aku,Asuka,Haruka dan Jaka tengah dalam perjalanan untuk membantu team 06 didaerah selatan sektor satu. Cukup jauh namun jika kami berhasil, kami dapat menggunakan pesawat tempur serta helikopter itu.
"kak Rei, sudah berapa lama pacaran dengan kak Asuka ?" tanya Haruka dengan tiba-tiba padaku.
"um,kira-kira 2 tahun setengah." jawabku dengan tetap konsentrari pada jalanan. Memang jalanan sektor 1 sudah sepi,tapi kadangkala ada 1 atau 2 zombie yang tersesat jadi harus dihindari.
"wah sudah lama juga ya." sambung Jaka dengan senyuman.
"begitulah" jawabku pendek.
"kak Asuka sendiri kenapa bisa suka kak Rei?" Haruka kembali bertanya.
"apa ya, ada suatu hal yang pernah dia lakukan dan membuatku jatuh cinta padanya. Kau tau, seperti ini dan itu. " jawab Asuka seenaknya. Sontak saja wajahku memerah,apalagi saat Jaka dan Haruka tertawa.
"wah kak Rei mesum, kak Asuka di ini ituin, tar ada dedek deh, hahaha" ejek Haruka. Sedangkan Asuka hanya cengengesan dan memperhatikan Desert Eagle ditangannya.
Namun kami dikejutkan dengan rentetan senjata api yang berasal dari pangkalan udara militer.
"Rei ! Itu ?" kejut Asuka. Ia tidak sendirian, kami juga terkejut. Dari kejauhan sudah terlihat puluhan survivor tengah menembaki ratusan zombie yang berlari kearah mereka.
"kita terlambat"
Dead Zone Sector 1
24-04-2122, 15.10 P.M
Military Airport
(POV 3)
"Sial ! Kita terpojok ! Hoi, tembaki mereka ! Kita harus bisa merebut pangkalan ini !" teriak salah seorang survivor berambut reggae diikat kebelakang yang tengah membredeli zombie-zombie dengan Gutling Gun.
"arghh ! Tolong aku Benta " teriakan seorang survivor lain terdengar saat tubuhnya dicabik-cabik dan dibantai oleh segerombolan zombie.
"sial !" umpat pria bernama Benta yang memegang Gutling Gun melihat temannya dibantai oleh zombie ganas. Yang terlihat hanyalah tangan temannya yang menjulur keatas saat daging empuknya disantap dan dirobek oleh para zombie.
Zombie yang menyerang seperti tidak ada habisnya, dan satu persatu survivor dibantai hingga tersisa 7 orang saja dari 15 survivor.
Tiba-tiba sebuah granat terlempar kekerumunan zombie.
Duarrr !!
Ledakan granat membuat puluhan zombie meregang nyawa diudara dengan bagian tubuh hancur berceceran,seketika terjadi hujan darah.
"maaf kami terlambat" teriakan dari seseorang dari belakang membuat Benta dan survivor yang tersisa menoleh. Terlihat dibelakangnya telah muncul 3 Humvee dan satu mobil sport berwarna hitam mengkilap, tentu saja milik team Rei. Sedangkan 3 Humvee dibelakang mobil Rei adalah mobil dari team 06. Kemudian anggota team 06 turun dari Humvee mereka dan membantu survivor yang tersisa untuk membersihkan zombie-zombie yang berlomba-lomba meraung kelaparan.
Rei,Asuka,Haruka dan Jaka ikut meramaikan pesta dengan senjata api mereka masing-masing. Butuh waktu 10 menit untuk menghabisi para infected yang kebanyakan adalah tentara yang terinfeksi. Desingan peluru terus beradu menancap ditubuh para zombie hingga zombie terakhir tumbang dengan kepala buntung.
"hosh..hosh..hosh" deru nafas para survivor beradu dengan denyutan jantung mereka.
"Benta ! Dasar kau tolol ! Misi ini diserahkan pada team 06 ! Mengapa kau ikut campur" tiba-tiba pimpinan team 06 berteriak berang pada Benta.
Semua terdiam mendengar teriakan pimpinan team 06,dikarenakan perawakannya yang tinggi kekar membuat nyali jadi ciut.
"maafkan aku bang,aku hanya ingin merebut pangkalan militer ini" jawab si Benta dengan kepala tertunduk,tidak berani menatap pimpinan team 06.
"brengsek pula kau !" teriaknya lagi disertai tinjuan yang membuat Benta terpental agak jauh.
"Bario Tampubolon, pemimpin team artileri 06 sektor 1. Dan adiknya, Benta Tampubolon pemimpin team 07 sektor 1." bisik Asuka pada Rei. Rei hanya mangut-mangut.
"berkat kau ! Team kau mampus semua ! Selamat, kau merupakan pemimpin yang cerdas ! Cerdas jika kuhantam batok kepala kau ke beton tu !" teriak pimpinan team 06 yang bernama Bario.
"maaf bang, aku hanya mau membantu kau" jawab Benta dengan menahan sakit dipelipisnya yang berdarah akibat tinjuan keras abangnya.
"bangsat kau ! Kau lihat dengan team kau ? Mampus 8 orang kau bisa hidupkan lagi hah ?" teriak Bario semakin berang dan kembali berniat melayangkan tinjuannya. Namun lengannya ditahan oleh anak buahnya.
"cukup lah Bar, dia adik kau ! Jangan kau bantai dia,ingat misi kita" tegur anak buah Bario yang tak kalah kekar dengannya.
"tapi kepalanya itu batu Alan, kau sudah tau dari dulu kan !" jawabnya dengan logat batak.
"sudahlah, yang penting zombienya sudah mampus. Ayo sekarang kita tuntaskan misi kita." jawab Alan.
"hem, yasudah terserah kau saja Lan, tapi si tolol itu kau suruh berjaga disini !" kata Bario mengalah kepada temannya disusul anggukan Alan.
"hei Benta ! Bersyukurlah kau kita punya ibu yang sama! " sambung Bario dengan teriakan. Kemudian ia berjalan kembali ke Humvee nya.
"kenapa kalian diam ! Ayo kembali kemobil, kita susuri pangkalan militer ini. Kali saja ada zombie tersisa." teriaknya lagi dari belakang setir.
Mendengar perintah Bario, semua anggota team 06 langsung kembali ke humvee masing-masing.
"Benta, kau berjaga dengan dua teman kau disini. 4 orangnya ikut kami. Jangan kau langgar perintahku kali ini, kau taulah abangmu" tegur Alan pada Benta yang tengah duduk lemas.
"baik bang,terimakasih" jawab Benta lemas.
" Jonathan dan Darto, kau berdua temani aku disini! Sisanya bawa motor berboncengan dan ikuti bang Alan." sambung Benta, tanpa banyak bicara orang yang disuruh Benta mengikuti team 06 beranjak ke motorcross mereka.
Alan mengalihkan pandangannya kearah Rei dan memberi kode mereka akan bergerak, Rei mengerti dan mereka kembali memasuki bat mobile.
(Back Point of View Rei)
"Rei, kita akan mengikuti Humveenya Bario. Sesuai dengan rencana yang kita tentukan bersama team 06 tadi dijalan." kata Asuka seusai kami masuk kembali ke mobil.
Aku mengangguk kecil kemudian menstarter mobil dan menunggu Humvee Bario bergerak. Saat dalam perjalanan ke pangkalan udara ini team-ku dan team 06 berjumpa dipersimpangan jalan,dengan beriringan-ku berkomunikasi tentang rencana misi kami lewat radio,tapi saat kami tengah membuat rencana. Terdengar bunyi tembakan dari pangkalan udara tujuan kami,tanpa dikomandoi Humvee team 06 dan Bat Mobile-ku beradu cepat untuk segera sampai di pangkalan udara tersebut.
"cek sound, H2, H3, Rei. Roger" suara Bario terdengar dari radio.
"Rei aktif. Roger" balas-ku.
"dengar, H2 dan H3. Kalian menyusuri daerah bagian timur, kita bertemu ditempat yang sudah dikoordinatkan. Rei ikuti aku menyusuri pangkalan barat. Semua jaga jarak 7Meter untuk menghindari kemungkinan terburuk. Roger." ujar Bario lagi memberi pengarahan. Usai memberi pengarahan, kami langsung bergerak menyusuri daerah yang ditentukan. Sejauh mata memandang, pangkalan militer ini sangat sepi. Mungkin seluruh zombie sudah terpancing pada pertempuran digerbang awal.
Namun tak lama berselang.
"H1 ganti ! H1 ganti ! Disini H2, kami diserang. Diulangi kami diserang.Roger" laporan dari team 06 yang berada disebelah timur mengejutkanku. Terdengar tembakan dan raungan zombie dari radionya.
"disini H1,laporkan lokasi kalian. Roger" balas Bario dari Humvee didepan Bat Mobileku.
"kami di hangar 3 diulangi hangar 3. Kami diserang mutan tingkat A. Rog-" tiba-tiba transmisi terputus. Bario langsung banting stir dan mengebut kearah kanan menuju timur,diikuti aku dan anak buah Benta dibelakangku. Dari kejauhan suara tembakan senjata sudah terdengar dari dalam hangar 3. Pintu hangar tampak terbuka dan pertama kali dalam hidupku aku melihat jaring laba-laba yang sangat besar menempel didinding luar hangar.
"Bario, apa maksudnya maksudnya mutan tingkat A" tanyaku lewat saluran radio.
"Rei ini bukan kemungkinan terburuk, tapi menurut pengamatan Alan. Mutan tingkat A itu mutan terkuat kedua,bentuknya macam laba-laba tapi mutan tingkat A punya buntut seperti kalajengking. Makanya kami team artileri dipilih buat melawan mutan yang menguasai pangkalan ini. Hati-hati kalian , tubuhnya cukup besar." balas Bario dengan logat bataknya yang kental.
"wah kalau begitu masih ada yang lebih kuat dong" celetuk Haruka yang dari tadi asik mendengar lagu lewat mp3nya.
" Jaka, persiapkan serum VK (Virus Killer). " kataku memperingatkan Jaka.
Saat kami sampai dipintu raksasa hangar 3,mobil team 06 yang bertugas ditimur terlihat hancur. Namun suara tembakan masih terdengar pertanda mereka masih selamat. Kami berhenti dan mematikan mesin mobil kemudian turun dan berkumpul.
Bario memberi kode jari, aku ditugaskan membawa teamku masuk lewat pintu kecil samping hangar dan membawa team 06 yang selamat keluar. Sedangkan Bario beserta teamnya dan keempat anak buah Benta mengikutinya untuk mengecoh mutan tingkat A. Seusai berdoa tentunya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kami bergerak sesuai tugas masing-masing.
Dengan gagahnya aku memimpin teamku menyusup lewat pintu samping.
Aku diikuti Asuka,Jaka dan dibelakang dilindungi Haruka. Sedangkan dari pintu depan hangar yang besar Bario dan teamnya masuk sambil mengokang senjata berat,tidak heran jika mereka disebut team artileri. Dan dari dalam kami dapat melihat jelas bentuk dan rupa mutan tingkat A,lebih seram dari penjelasan Bario. Nyaliku jadi ciut sih,tapi gengsi lah masa ketua team cemen.
Baru saja team Bario masuk, mereka sudah diserbu puluhan zombie dan diikuti mutan tingkat A. Mendapat serangan maha dahsyat, Alan yang berada tepat dibelakang Bario segera membidikkan RPG nya kearah mutan yan besarnya 2 kali lipat dari gajah.
Duarr!!
Meledaknya peluru RPG dimuka mutan tingkat A menandakan pertempuran dimulai. Dengan gagah team artileri dan anak buah Benta menembaki zombie-zombie yang menyerang mereka. Tidak lupa juga menyarangkan peluru tajam mereka ke mutan tingkat A. Senjata berat yang mereka pakai hampir sama dengan senjata Alfonso dari sektor 3. Yaitu M60,RPK,AK47 dan RPG. Dengan senjata yang mampu memuntahkan ratusan peluru dalam sekali tembak,tidak heran lagi mereka disebut Artileri sektor 1. Sedangkan perhatian zombie-zombie dan mutan tingkat A teralihkan,aku bergerak maju dan mencari team yang selamat dan ternyata mereka terpojok didekat pesawat siluman yang terparkir dipojok hangar 3. Mereka terus menembaki zombie yang mendekat. Aku membidikkan M4A1 ku dan mulai menembaki zombie yang menghalangi jalan kami,diikuti tembakan Asuka dan Haruka.
"Rei, kita akan mengikuti Humveenya Bario. Sesuai dengan rencana yang kita tentukan bersama team 06 tadi dijalan." kata Asuka seusai kami masuk kembali ke mobil.
Aku mengangguk kecil kemudian menstarter mobil dan menunggu Humvee Bario bergerak. Saat dalam perjalanan ke pangkalan udara ini team-ku dan team 06 berjumpa dipersimpangan jalan,dengan beriringan-ku berkomunikasi tentang rencana misi kami lewat radio,tapi saat kami tengah membuat rencana. Terdengar bunyi tembakan dari pangkalan udara tujuan kami,tanpa dikomandoi Humvee team 06 dan Bat Mobile-ku beradu cepat untuk segera sampai di pangkalan udara tersebut.
"cek sound, H2, H3, Rei. Roger" suara Bario terdengar dari radio.
"Rei aktif. Roger" balas-ku.
"dengar, H2 dan H3. Kalian menyusuri daerah bagian timur, kita bertemu ditempat yang sudah dikoordinatkan. Rei ikuti aku menyusuri pangkalan barat. Semua jaga jarak 7Meter untuk menghindari kemungkinan terburuk. Roger." ujar Bario lagi memberi pengarahan. Usai memberi pengarahan, kami langsung bergerak menyusuri daerah yang ditentukan. Sejauh mata memandang, pangkalan militer ini sangat sepi. Mungkin seluruh zombie sudah terpancing pada pertempuran digerbang awal.
Namun tak lama berselang.
"H1 ganti ! H1 ganti ! Disini H2, kami diserang. Diulangi kami diserang.Roger" laporan dari team 06 yang berada disebelah timur mengejutkanku. Terdengar tembakan dan raungan zombie dari radionya.
"disini H1,laporkan lokasi kalian. Roger" balas Bario dari Humvee didepan Bat Mobileku.
"kami di hangar 3 diulangi hangar 3. Kami diserang mutan tingkat A. Rog-" tiba-tiba transmisi terputus. Bario langsung banting stir dan mengebut kearah kanan menuju timur,diikuti aku dan anak buah Benta dibelakangku. Dari kejauhan suara tembakan senjata sudah terdengar dari dalam hangar 3. Pintu hangar tampak terbuka dan pertama kali dalam hidupku aku melihat jaring laba-laba yang sangat besar menempel didinding luar hangar.
"Bario, apa maksudnya maksudnya mutan tingkat A" tanyaku lewat saluran radio.
"Rei ini bukan kemungkinan terburuk, tapi menurut pengamatan Alan. Mutan tingkat A itu mutan terkuat kedua,bentuknya macam laba-laba tapi mutan tingkat A punya buntut seperti kalajengking. Makanya kami team artileri dipilih buat melawan mutan yang menguasai pangkalan ini. Hati-hati kalian , tubuhnya cukup besar." balas Bario dengan logat bataknya yang kental.
"wah kalau begitu masih ada yang lebih kuat dong" celetuk Haruka yang dari tadi asik mendengar lagu lewat mp3nya.
" Jaka, persiapkan serum VK (Virus Killer). " kataku memperingatkan Jaka.
Saat kami sampai dipintu raksasa hangar 3,mobil team 06 yang bertugas ditimur terlihat hancur. Namun suara tembakan masih terdengar pertanda mereka masih selamat. Kami berhenti dan mematikan mesin mobil kemudian turun dan berkumpul.
Bario memberi kode jari, aku ditugaskan membawa teamku masuk lewat pintu kecil samping hangar dan membawa team 06 yang selamat keluar. Sedangkan Bario beserta teamnya dan keempat anak buah Benta mengikutinya untuk mengecoh mutan tingkat A. Seusai berdoa tentunya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kami bergerak sesuai tugas masing-masing.
Dengan gagahnya aku memimpin teamku menyusup lewat pintu samping.
Aku diikuti Asuka,Jaka dan dibelakang dilindungi Haruka. Sedangkan dari pintu depan hangar yang besar Bario dan teamnya masuk sambil mengokang senjata berat,tidak heran jika mereka disebut team artileri. Dan dari dalam kami dapat melihat jelas bentuk dan rupa mutan tingkat A,lebih seram dari penjelasan Bario. Nyaliku jadi ciut sih,tapi gengsi lah masa ketua team cemen.
Baru saja team Bario masuk, mereka sudah diserbu puluhan zombie dan diikuti mutan tingkat A. Mendapat serangan maha dahsyat, Alan yang berada tepat dibelakang Bario segera membidikkan RPG nya kearah mutan yan besarnya 2 kali lipat dari gajah.
Duarr!!
Meledaknya peluru RPG dimuka mutan tingkat A menandakan pertempuran dimulai. Dengan gagah team artileri dan anak buah Benta menembaki zombie-zombie yang menyerang mereka. Tidak lupa juga menyarangkan peluru tajam mereka ke mutan tingkat A. Senjata berat yang mereka pakai hampir sama dengan senjata Alfonso dari sektor 3. Yaitu M60,RPK,AK47 dan RPG. Dengan senjata yang mampu memuntahkan ratusan peluru dalam sekali tembak,tidak heran lagi mereka disebut Artileri sektor 1. Sedangkan perhatian zombie-zombie dan mutan tingkat A teralihkan,aku bergerak maju dan mencari team yang selamat dan ternyata mereka terpojok didekat pesawat siluman yang terparkir dipojok hangar 3. Mereka terus menembaki zombie yang mendekat. Aku membidikkan M4A1 ku dan mulai menembaki zombie yang menghalangi jalan kami,diikuti tembakan Asuka dan Haruka.
Ketika sampai aku menjadi prihatin melihat keadaan mereka.
Sangat parah,setengah dari mereka terluka parah akibat serangan mutan tingkat
A.
"hei, ada yang tergigit atau semacamnya" tanyaku sambil terus menembaki zombie yang mulai berkurang jumlahnya. "2 orang yang tergigit, ah sial mutan itu muncul tiba-tiba saat kami mengitari hangar ini." jawab salah satu anggota team 06.
"sudah berapa lama ?" sambung Asuka yang tengah memegang dahi salah satu anggota team 06 yang tergigit.
"sekitar 3 menit." jawabnya lagi.
"masih bisa ditolong. Jaka suntikkan serum lewat leher mereka!" teriakku sambil mengganti magazine.
"kak Rei,bagaimana cara kita keluar dari sini" celetuk Haruka yang tengah menembaki zombie-zombie dengan MP5.
"pertama bawa dulu yang terluka ke Humvee yang tersisa dan yang bisa mengangkat senjata menyerbu mutan tingkat A dari belakang. Serangan 2 arah akan membuatnya kewalahan." jawabku singkat,padat,jelas. Tentu tanpa gaya sok kul atau dingin.
"Rei, jumlah mereka 8 orang, 4 luka parah,2 diantaranya tergigit tapi sudah diberi serum. Tinggal menunggu perintahmu." kata Asuka,ia berdiri disampingku dan membidikkan MP7 nya kekepala zombie-zombie yang semakin sedikit dan meledakkannya. Oh aku sangat terpesona ketika ia menembakkan timah cintanya padaku.
"REI!" sambungnya dengan cubitan dipinggangku.
"eh, aw aw. Iya maaf ! Ayo team bergerak perlahan, papah yang terluka. Sisanya cover,kita keluar bersama." perintahku adalah mutlak. Jadi seperti Aka*tittt*.
Sesuai dengan perintahku,kami bergerak pelan tapi pasti menuju pintu waktu kami masuk. Lalu membaringkan anggota team yang terluka.
"Jaka dan kau jaga mereka! Jaka periksa perkembangan mereka, jika buruk jangan segan untuk kau tembak." perintahku lagi dan menunjuk salah seorang anggota yang bisa mengangkat senjata untuk menjaga rekannya dan Jaka.
"sisanya ayo masuk. Kita beri kejutan pada mutan terkasih." sambungku,kemudian kami bergerak cepat dan mengambil posisi menembak.
Diluar dugaan, zombie yang tadinya banyak kini hanya tersisa 1. Yaitu mutan tingkat A. Tapi korban dipihak Bario lumayan banyak, 2 orang anak buah Benta tewas dengan lubang besar didada,dan salah satu anggota Bario tengah melayang-layang saat ekor mutan A itu menembus dadanya.
"tembak !" teriakku saat posisi kami siap menyerang. Seketika muntahan timah panas terus melesat dan menancap disekujur tubuh mutan A. Mendapat serangan dadakan mutan tingkat A seketika panik dan menyembur jaringnya kesembarang arah dan juga melibas ekornya asal-asalan sehingga mayat diekornya terlempar. Karena mendapat bantuan, semangat Bario dan teamnya kembali meledak. Dengan membabi buta ditembakinya mutan tingkat A hingga ia terpojok.
"grauhh.. Grauhh !" geram mutan tingkat A menahan sakit. Mutan itu terus-terusan menyemburkan jaring dan melibas ekornya tidak kalah gila. Beberapa kali anggota team 06 yang kupimpin terlempar tapi segera bangkit dan kembali menembaki mutan tingkat A itu. Pantas saja disebut team artileri,mereka sangat tahan banting.
"reload" teriakku memperingatkan disusul Asuka yang melempar sebuah granat kearah mutan tingkat A.
Duarr!!
Ledakannya menciptakan lubang dilantai dan menumbangkan mutan tingkat A. Segera saja kami menembak makin gila sambil berjalan mendekatinya. Aku juga melontarkan granat 5 kali lewat grenade throwerku di M4A1.
Daya ledaknya cukup kuat hingga membuat lubang besar ditubuh bawah mutan tingkat A yang lembut itu.
Beberapa menit kemudian tembakan kami hentikan. Bario mengecek apakah ada denyut kehidupan di monster itu.
"sudah mati ! Hangar ini aman !" teriak Bario.
" Alan ! Sambungkan transmisi pada Ani ! Beritahu dia bahwa pangkalan udara sudah pada tahap aman karena mutan tingkat A sudah kita habisi !" sambungnya lagi dengan senyuman kemenangan.
Hah lega mengetahui monster itu sudah mati,meski misi ini memakan banyak korban. Tapi hasilnya setimpal. 30 menit kemudian kami telah meninggalkan hangar 3 dan berkumpul digerbang awal. Disambut oleh Benta yang terlihat khawatir melihat jumlah humvee yang sudah berkurang.
"apa ? Apa yang terjadi bang ?" pertanyaan itulah yang terlontar dari Benta saat abangnya turun dari humvee.
"kami melawan mutan tingkat A. Cukup susah dan menguras keringat." jawab Bario dengan wajah kelelahan.
"kami kehilangan banyak prajurit. Satu dari team 06 dan dua anak buahmu Ben" sambung Alan tidak kalah lelahnya.
"ah begitu" jawab Benta dengan wajah murung. Salahnya karna membawa team sekaligus sahabatnya untuk menyerahkan nyawa ditempat ini. Kini yang selamat dari teamnya hanya tersisa 4 orang.
Melihat adiknya murung,Bario menjadi tidak tega.
" sudahlah Ben, teman kau itu jantan ! Mereka mati demi kita semua. Marilah kita manfaatkan perjuangan mereka agar bumi kembali seperti dulu." ujar Bario pada Benta.
"hei, ada yang tergigit atau semacamnya" tanyaku sambil terus menembaki zombie yang mulai berkurang jumlahnya. "2 orang yang tergigit, ah sial mutan itu muncul tiba-tiba saat kami mengitari hangar ini." jawab salah satu anggota team 06.
"sudah berapa lama ?" sambung Asuka yang tengah memegang dahi salah satu anggota team 06 yang tergigit.
"sekitar 3 menit." jawabnya lagi.
"masih bisa ditolong. Jaka suntikkan serum lewat leher mereka!" teriakku sambil mengganti magazine.
"kak Rei,bagaimana cara kita keluar dari sini" celetuk Haruka yang tengah menembaki zombie-zombie dengan MP5.
"pertama bawa dulu yang terluka ke Humvee yang tersisa dan yang bisa mengangkat senjata menyerbu mutan tingkat A dari belakang. Serangan 2 arah akan membuatnya kewalahan." jawabku singkat,padat,jelas. Tentu tanpa gaya sok kul atau dingin.
"Rei, jumlah mereka 8 orang, 4 luka parah,2 diantaranya tergigit tapi sudah diberi serum. Tinggal menunggu perintahmu." kata Asuka,ia berdiri disampingku dan membidikkan MP7 nya kekepala zombie-zombie yang semakin sedikit dan meledakkannya. Oh aku sangat terpesona ketika ia menembakkan timah cintanya padaku.
"REI!" sambungnya dengan cubitan dipinggangku.
"eh, aw aw. Iya maaf ! Ayo team bergerak perlahan, papah yang terluka. Sisanya cover,kita keluar bersama." perintahku adalah mutlak. Jadi seperti Aka*tittt*.
Sesuai dengan perintahku,kami bergerak pelan tapi pasti menuju pintu waktu kami masuk. Lalu membaringkan anggota team yang terluka.
"Jaka dan kau jaga mereka! Jaka periksa perkembangan mereka, jika buruk jangan segan untuk kau tembak." perintahku lagi dan menunjuk salah seorang anggota yang bisa mengangkat senjata untuk menjaga rekannya dan Jaka.
"sisanya ayo masuk. Kita beri kejutan pada mutan terkasih." sambungku,kemudian kami bergerak cepat dan mengambil posisi menembak.
Diluar dugaan, zombie yang tadinya banyak kini hanya tersisa 1. Yaitu mutan tingkat A. Tapi korban dipihak Bario lumayan banyak, 2 orang anak buah Benta tewas dengan lubang besar didada,dan salah satu anggota Bario tengah melayang-layang saat ekor mutan A itu menembus dadanya.
"tembak !" teriakku saat posisi kami siap menyerang. Seketika muntahan timah panas terus melesat dan menancap disekujur tubuh mutan A. Mendapat serangan dadakan mutan tingkat A seketika panik dan menyembur jaringnya kesembarang arah dan juga melibas ekornya asal-asalan sehingga mayat diekornya terlempar. Karena mendapat bantuan, semangat Bario dan teamnya kembali meledak. Dengan membabi buta ditembakinya mutan tingkat A hingga ia terpojok.
"grauhh.. Grauhh !" geram mutan tingkat A menahan sakit. Mutan itu terus-terusan menyemburkan jaring dan melibas ekornya tidak kalah gila. Beberapa kali anggota team 06 yang kupimpin terlempar tapi segera bangkit dan kembali menembaki mutan tingkat A itu. Pantas saja disebut team artileri,mereka sangat tahan banting.
"reload" teriakku memperingatkan disusul Asuka yang melempar sebuah granat kearah mutan tingkat A.
Duarr!!
Ledakannya menciptakan lubang dilantai dan menumbangkan mutan tingkat A. Segera saja kami menembak makin gila sambil berjalan mendekatinya. Aku juga melontarkan granat 5 kali lewat grenade throwerku di M4A1.
Daya ledaknya cukup kuat hingga membuat lubang besar ditubuh bawah mutan tingkat A yang lembut itu.
Beberapa menit kemudian tembakan kami hentikan. Bario mengecek apakah ada denyut kehidupan di monster itu.
"sudah mati ! Hangar ini aman !" teriak Bario.
" Alan ! Sambungkan transmisi pada Ani ! Beritahu dia bahwa pangkalan udara sudah pada tahap aman karena mutan tingkat A sudah kita habisi !" sambungnya lagi dengan senyuman kemenangan.
Hah lega mengetahui monster itu sudah mati,meski misi ini memakan banyak korban. Tapi hasilnya setimpal. 30 menit kemudian kami telah meninggalkan hangar 3 dan berkumpul digerbang awal. Disambut oleh Benta yang terlihat khawatir melihat jumlah humvee yang sudah berkurang.
"apa ? Apa yang terjadi bang ?" pertanyaan itulah yang terlontar dari Benta saat abangnya turun dari humvee.
"kami melawan mutan tingkat A. Cukup susah dan menguras keringat." jawab Bario dengan wajah kelelahan.
"kami kehilangan banyak prajurit. Satu dari team 06 dan dua anak buahmu Ben" sambung Alan tidak kalah lelahnya.
"ah begitu" jawab Benta dengan wajah murung. Salahnya karna membawa team sekaligus sahabatnya untuk menyerahkan nyawa ditempat ini. Kini yang selamat dari teamnya hanya tersisa 4 orang.
Melihat adiknya murung,Bario menjadi tidak tega.
" sudahlah Ben, teman kau itu jantan ! Mereka mati demi kita semua. Marilah kita manfaatkan perjuangan mereka agar bumi kembali seperti dulu." ujar Bario pada Benta.
Benta hanya mengangguk dan tersenyum.
"hei Rei, bagaimana anak buahku yang tergigit itu. Apa mereka tidak bisa diselamatkan ?" tanya Bario kini mengarah padaku.
" Jaka, gimana keadaannya ? " kusambung pertanyaan Bario ke Jaka saja, emang gue pikirin nasib anak buahnya.
"serumnya bekerja ! Mereka selamat, hanya butuh istirahat. Lukanya akan sembuh sesegera mungkin." jawab Jaka usai mengecek kondisi anak buah Bario.
"baguslah. Hanya Doni yang tewas,huft." desahnya lesu.
"kuharap dengan ini, pangkalan udara ini akan berguna nantinya." ujar Asuka sambil meregangkan tulangnya yang terasa kaku.
"hei cantik, jago pulak kau. Beruntung kali si Rei itu." goda Bario pada Asuka. Asuka hanya tersenyum menanggapinya sedangkan aku nyengir kuda.
"kak, pulang yuk. Haruka lapar" rengek Haruka.
"iya-iya, Bario. Kami pulang dulu ya,sisanya kau yang urus saja. Misi kami sudah selesai." ujarku pada Bario,sekalian mengusap rambut Haruka.
"wah kau ini, sekali tepuk dua gadis kau embat ! Beruntung gila kau ! Yasudah, sampai ketemu lagi ya!" Bario menjawab sekaligus menunjukkan rasa irinya.
Aku semakin menyengir saja kemudian masuk kemobil diikuti Asuka,Haruka dan Jaka.
"dadah om-om gede" teriak Haruka saat melambai dari mobil.
"dadah manis" teriakan Bario ternyata sangat keras hingga kami bisa mendengarnya meski jauh. Hah, pacar,adik dan teman adik. Lengkap sudah team ku. Ah, aku terlalu senang. Aku tak tau apa yang harus kutakuti. Pandemik ini atau perasaan menikmati semua ini.
Do what you do
Love what you love
saya herp selamat malam.
To be Continued
Part 3 : Sam Country
"hei, my name Julia. Just call me Juli." gadis bule berambut pirang itu mengenalkan dirinya sambil mengedipkan matanya padaku.
"my name is Rei" jawabku ramah.
"and this is my girlfriend,Asuka. My little sister Haruka and our medician Jaka." sambungku mengenalkan teamku pada Julia.
"oh gosh, she is your gf ? How luck" jawabnya dengan tawa renyah khas orang Amerika.
Stay tune coegz :'v <3
"hei Rei, bagaimana anak buahku yang tergigit itu. Apa mereka tidak bisa diselamatkan ?" tanya Bario kini mengarah padaku.
" Jaka, gimana keadaannya ? " kusambung pertanyaan Bario ke Jaka saja, emang gue pikirin nasib anak buahnya.
"serumnya bekerja ! Mereka selamat, hanya butuh istirahat. Lukanya akan sembuh sesegera mungkin." jawab Jaka usai mengecek kondisi anak buah Bario.
"baguslah. Hanya Doni yang tewas,huft." desahnya lesu.
"kuharap dengan ini, pangkalan udara ini akan berguna nantinya." ujar Asuka sambil meregangkan tulangnya yang terasa kaku.
"hei cantik, jago pulak kau. Beruntung kali si Rei itu." goda Bario pada Asuka. Asuka hanya tersenyum menanggapinya sedangkan aku nyengir kuda.
"kak, pulang yuk. Haruka lapar" rengek Haruka.
"iya-iya, Bario. Kami pulang dulu ya,sisanya kau yang urus saja. Misi kami sudah selesai." ujarku pada Bario,sekalian mengusap rambut Haruka.
"wah kau ini, sekali tepuk dua gadis kau embat ! Beruntung gila kau ! Yasudah, sampai ketemu lagi ya!" Bario menjawab sekaligus menunjukkan rasa irinya.
Aku semakin menyengir saja kemudian masuk kemobil diikuti Asuka,Haruka dan Jaka.
"dadah om-om gede" teriak Haruka saat melambai dari mobil.
"dadah manis" teriakan Bario ternyata sangat keras hingga kami bisa mendengarnya meski jauh. Hah, pacar,adik dan teman adik. Lengkap sudah team ku. Ah, aku terlalu senang. Aku tak tau apa yang harus kutakuti. Pandemik ini atau perasaan menikmati semua ini.
Do what you do
Love what you love
saya herp selamat malam.
To be Continued
Part 3 : Sam Country
"hei, my name Julia. Just call me Juli." gadis bule berambut pirang itu mengenalkan dirinya sambil mengedipkan matanya padaku.
"my name is Rei" jawabku ramah.
"and this is my girlfriend,Asuka. My little sister Haruka and our medician Jaka." sambungku mengenalkan teamku pada Julia.
"oh gosh, she is your gf ? How luck" jawabnya dengan tawa renyah khas orang Amerika.
Stay tune coegz :'v <3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar